Jumat, 23 September 2011

Houtman Zainal Arifin

Pembaca, tahu tidak atau minimal pernah dengar nama Houtman Zainal Arifin??  Yang baru dengar-dengar namanya, coba cari tahu perjalanan hidupnya, bagi yang sudah tahu, pasti mendapat pelajaran yang sangat berharga.  Saya termasuk orang yang baru tahu tentang beliau, subhanallah saya kagum dengan orang ini. Dalam kurun 19 tahun ia memulai menjadi OB dan pensiun sebagai Vice President di City Bank, jabatan tertinggi di perusahaan tersebut di Indonesia, karena President Direktur orang Amerika asli yang tentunya tidak tinggal di Indonesia.

Pertama kali saya ingin berbagi dahulu bagaimana saya mengetahui beliau.  Rabu, 10 Agustus lalu, secara tidak sengaja saya melihat TVONE di acara "Apa dan Siapa".  Di acara tersebut diundang 2 (dua) orang Social Entrepeneur, salah satunya adalah Houtman Zainal Arifin.  Pada awalnya, saya hanya menonton saja, tapi begitu lama diperhatikan luar biasa sekali beliau ini.  Pembawaan beliau sangat-sangat tenang, berpengalaman, rendah hati, dan saya pikir beliau seseorang yang memiliki semangat yang sangat tinggi dan pantang menyerah.  Suaranya serak dan berat.

Ada beberapa hal yang saya catat dari beliau di acara tersebut.  Beliau adalah seorang perantau.  Di jakarta ia pernah menjadi anak jalanan, pedagang asongan.

Beliau bercerita, ketika menjadi pedagang asongan dan sedang laku-lakunya, ia istirahat di suatu tempat dan tiba-tiba datang KAMTIB, saat itu juga dagangan yang sedang laku-lakunya di injak-injak lalu dibuang.  Dari kejadian tersebut ia belajar dua hal.  Pertama, menurutnya ia sedang diajak bercanda oleh Allah, dan ia sedang di perhatikan oleh Allah.  Kedua, ketika barangnya di injak-injak dan dibuang oleh KAMTIB, yang membantu memungut, dan mengambil barang-barang dagangan beliau adalah tukang semir sepatu, tukang koran, pedagang asongan lain, pengamen, dan lain-lain yang membuatnya berfikir jika ingin sukses dekat-dekatlah denga kaum dhuafa.  Untuk poin yang kedua ini saya beranggapan, (tanpa mengecilkan salah satu golongan lain) mungkin ketika kita dekat dengan kaum dhuafa, menumbuhkan semangat hidup untuk melakukan sesuatu dalam kelangsungan hidup, menjadi orang yang memiliki fighting spirit yang besar, tidak cengeng, tahan banting dan memiliki pengalaman atau pelajaran hidup begitu besar, dan sebagainya.

Bicara tahan banting, suatu ketika ia pernah berjalan-jalan selama 2 hari dengan Muhammad Ali, ya petinju legendaris itu.  Di satu kesempatan, beliau iseng, memencet-mencet dan memegang-megang tangannya, kata beliau keras sekali seperti batu.  Kemudian beliau bertanya pada Muhammad Ali mengapa bisa begitu keras, jawab Muhammad Ali, ia berlatih dengan sangat keras agar kuat menahan pukulan dan dihargai ribuan dolar untuk satu pukulan yang mengenainya.  Jadi pada intinya untuk sukses dalam hidup diperlukan kerja keras dan kekuatan yang besar, mental maupun fisik.  Begitu kira-kira.  Terdengar familiar tapi sepertinya itulah jawaban yang akan selalu dikeluarkan oleh orang-orang sukses ketika ditanya kisah kesuksesannya.

Diakhir acara diberikan satu kesempatan oleh beliau untuk memberi nasihat khususnya untuk kaum muda, kurang lebih seperti ini.  "Bangsa ini milik kalian, negeri ini milik kalian, jangan takut berharap dan bermimpi.  Raih mimipi kalian.  Jangan hanya menjual fisik, tapi jual juga ini (nunjuk kepala)"

Oh ya bagaimana kisah lengkap beliau, bisa di klik di http://www.thedollarcorner.com/kisah-inspiratif-tentang-houtman-zainal-arifin/

Semoga bermanfaat...


     

Senin, 19 September 2011

Cerita Arsenal hingga pekan kelima BPL 2011/12

Bekasi-- Barclays Premier League (BPL) telah memasuki pekan kelima, banyak cerita terjadi dari sepuluh pertandingan yang digelar.  MU yang semakin perkasa dan membuktikan mereka memang raja dengan permainan ngotot dan indah ketika menggasak Chelsea 3-1 di Old Trafford, MC yang secara tak terduga ditahan imbang 2-2 oleh Fulham, dan dibantainya Liverpool empat gol tanpa balas oleh Hotspurs serta fakta enam dari sepuluh pertandingan yang digelar dimenangkan oleh tuan rumah, mewarnai kejutan BPL pekan kelima.

Namun tidak ada yang lebih mengejutkan dan menyesakkan dari cerita Arsenal di pekan kelima ini, klub besar langganan big four secara mengejutkan kalah 4-3 dari Blackburn Rovers.  Kekalahan ini menjadi yang ketiga di derita Arsenal dari lima pekan BPL, setelah sebelumnya di pertandingan pertama dan ketiga menelan hasil imbang dari Newcastle dan menang tipis 1-0 menghadapi klub promosi Swansea.

Lima pertandingan dengan hasil tiga kekalahan, satu hasil imbang dan sekali menang, dan perolehan empat poin  serta menduduki peringkat tujuh belas klaemen sementara, sudah menjadi catatan terburuk mereka 58 tahun terakhir.  Ini belum ditambah dengan rekor kebobolan yang begitu banyak, bayangkan saja mereka sudah harus menelan empat belas kali kebobolan (terbanyak dari sembilan belas tim lain) berbanding enam kali membobol gawang lawan.

Hasil ini tentu saja sangat mengkhawatirkan fans Arsenal, apalagi sang pelatih, Arsene Wenger, bahkan, ketika jumpa pers seusai kalah dari Rovers, ia mengaku tengah frustasi setelah kekalahan tersebut.

"Anda tak bisa mengatakan kalau Anda tidak cemas ketika Anda melihat performa yang kami tampilkan.  Bukan sekedar tidak mampu bertahan secara solid.  Kami tidak banyak memiliki banyak momen yang menunjukan kelemahan kami.  Namun ketika kami memperlihatkannya, harga yang kami bayar sangatlah mahal.  Kami juga mencetak dua gol bunuh diri dan itu tidak biasa," ujar Wenger selepas pertandingan Blackburn, seperti yang dilansir The Sun dikutip dari bolanews.com


Sangat beralasan memang Wenger menjadi frustasi, setelah selesai dengan musim keenam tanpa gelar.  Ia mengawali musim selanjutnya dengan rentetan hasil buruk di uji coba, dan yang paling tidak mengenakkan ditinggal sejumlah pemain kunci.  Cesc (Barcelona) dan Nasri (City), setelah sebelumnya Denilson (Sao Paolo), Clichy (City) dan Eboue (Galatasaray).  Hasil di lima pekan awal seperti menjadi 'air jeruk nipis' yang disiram di luka yang menganga lebar.

Usaha untuk memperbaiki keadaan pun telah dilakukan.  Dimulai dari datangnya sembilan pemain baru yang lima diantaranya di datangkan pada detik akhir bursa transfer, Park Chu Young, Per Mertesacker, Andre Santos, Yossi Benayoun, dan Mikel Arteta.  Bahkan dengan mengubah sedikit kebijakan dengan mendatangkan pemain berumur 30 tahun.  Ya, tampaknya Wenger mulai melunak dengan kebijakan transfer yang selalu enggan mengontrak pemain yang sudah memasuki umur 30, statusnya pinjam pula.  Hingga optimisme yang terus dilayangkan Proffesor kepada pemain-pemainnya.  Namun tampaknya hasil baik masih belum memihak Arsenal.

Selalu saja ada jalan keluar di setiap kesulitan, pepatah tersebut sangat berlaku bagi siapa pun termasuk Arsenal.  Jalan keluar tersebut berada di pemain yang di datangkan oleh Wenger.  Dari sembilan pemain, lima pemain terakhir yang di datangkan plus Gervinho bisa menjadi jalan keluar (setidaknya menurut saya pribadi).  Mereka pemain yang paling menjanjikan perubahan, paling tidak dalam dua bulan kedepan, karena pengalaman dan skill yang telah terasah sebelumnya.  Berbeda dengan empat pemain lain yang masih muda dan perlu waktu tidak sebentar untuk mampu menunjukan kualitasnya.

Well, meminjam kalimat Bung Weshley Hutagalung dalam kolomnya di bolanews.com.  Siapakah dari antara Mikel, Arteta, Per Mertesacker, Andre Santos, hingga Gervinho bakal menjelma menjadi The Dragon Warrior seperti dalam Kungfu Panda? Pertanyaan lain, mampukah Wenger melakukan tugas seperti Master Shifu dalam membantu kemunculan The Dragon Warrior yang dibantu The Furious Five?

Just wait and see.........................................................again.

Jumat, 02 September 2011

Irshad Manji: Idola Kaum Liberal! Wallah'alam

Ngoprek-oprek document, nemu ini tulisan.  Udah lama banget ni tulisan, lupa dapat darimana...


 Today at 08:34

Sumber: http://www.insistnet.com/

Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar jangan pakai dalil ayat-ayat al-Quran. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah tidak percaya lagi pada keotentikan al-Quran, sehingga tidak ada gunanya dalil al-Quran untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih percaya al-Quran sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan dan penafsiran yang berbeda.

Jika tafsirnya kita kritik, mereka pun tak segan-segan menyatakan, ”Itu kan penafsiran anda! Penafsiran saya tidak begitu!” Mereka banyak yang sudah berpandangan bahwa hanya Tuhan saja yang tahu penafsiran yang sebenarnya. Manusia boleh menafsirkan al-Quran semaunya, dan semuanya tidak dapat disalahkan. Karena itu, ada yang menyatakan, bahwa perbedaan antara Islam dan Ahmadiyah, hanyalah soal perbedaan tafsir saja, karena itu jangan saling menyalahkan, karena semua penafsiran adalah relatif. Yang tahu kebenaran yang mutlak, hanya Allah saja.

Memang, soal utama antara Islam dan Ahmadiyah, adalah masalah tafsir. Tapi, ada tafsir yang salah dan ada tafsir yang benar. Semua manusia yang masih berakal (tidak gila), bisa saja menafsiran al-Quran. Tapi, tidak semua tafsir itu benar, sebagaimana klaim kaum liberal. Ada tafsir yang salah. Misalnya, kalau ada yang menafsirkan ayat ”Wa-aqimish shalaata lidzikri”, bahwa tujuan salat adalah mengingat Allah. Maka, jika sudah ingat Allah, berarti tujuan sudah tercapai, dan tidak perlu salat lagi. Tafsir semacam ini tentu saja tafsir yang salah.

Contoh lain, dalam buku Eik Ghalthi ka Izalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan) karya Mirza Ghulam Ahmad (terbitan Ahmadiyah Cabang Bandung tahun 1993), hal. 5, tertulis pengakuan Ghulam Ahmad yang mendapat wahyu berbunyi: ”Muhammadur Rasulullah wal-ladziina ma’ahu asyiddaa’u ’alal kuffaari ruhamaa’u baynahum.” Lalu, dia komentari ayat tersebut: ”Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan namaku ”Muhammad” dan ”Rasul”.”

Ayat tersebut jelas terdapat dalam al-Quran (QS 48:29). Kaum Muslim yakin seyakin-yakinnya, bahwa ”Muhammadur Rasulullah” di situ menunjuk kepada Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekkah; bukan merujuk kepada Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. Jika Ghulam Ahmad membuat tafsir bahwa dia adalah juga Muhammad sebagaimana ditunjuk dalam ayat tersebut, maka tafsir Ghulam Ahmad semacam itu jelas tafsir yang salah.

Akan tetapi, kaum liberal akan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad juga berhak membuat tafsir sendiri, dan tidak boleh disalahkan atau disesatkan. Anehnya, kalau umat Islam punya pandangan dan sikap yang berbeda dengan kaum liberal, maka akan disalah-salahkan, dicap fundamentalis, radikal, tidak toleran, dan sebagainya. Jadi, kita dilarang menyalahkan yang salah, tetapi kaum liberal boleh menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka.

Sebagaimana pernah kita bahas dalam beberapa CAP, aksi kaum liberal dalam menyerang al-Quran dari waktu ke waktu semakin brutal. Berlindung di balik wacana kebebasan, mereka tidak segan-segan lagi menyerang dan menistakan al-Quran secara terbuka. Apa yang pernah terjadi di IAIN Surabaya tahun 2006, ketika seorang dosen menginjak-injak lazadz Allah yang ditulisnya sendiri, tampaknya hanyalah fenomena gunung es belaka. Sejumlah buku, jurnal, dan artikel terbitan kaum liberal di Indonesia sudah secara terbuka menyerang al-Quran. Kita masih ingat, bagaimana jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang secara semena-mena menyerang al-Quran, dengan menyatakan:

”Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

.

Yang kita heran, orang-orang ini adalah bagian dari kalangan akademisi yang seharusnya menjunjung tinggi tradisi intelektual yang sehat. Tapi, faktanya, mereka sering mengungkapkan pendapat tanpa didukung oleh data-data yang memadai. Belakangan ini, kaum liberal di Indonesia sedang gandrung-gandrungnya pada seorang wanita lesbian bernama Irshad Manji. Kedatangannya di Indonesia pada bulan April 2008 disambut meriah. Dia dipuji-puji sebagai wanita muslimah yang hebat. Seorang wanita alumnus UIN Jakarta bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Kata si Nong: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Hari Kamis (14/8/2008), saya diundang untuk menghadiri satu acara bedah buku tentang FPI di kantor Majalah Gatra. Tanpa saya tahu, penerbit buku tentang FPI tersebut (Nun Publisher) adalah juga penerbit buku Irshad Manji yang edisi Indonesianya diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Di sampul depan buku ini, Manji ditulis sebagai ”Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Disebutlah buku ini sebagai sebagai ”International Best Seller, New York Times Bestseller, dan telah diterbitkan di 30 negara.” Pokoknya, membaca promosi di sampulnya, sepertinya, buku ini sangat hebat.

Tapi, sebenarnya, isinya kurang memenuhi standar ilmiah. Banyak celotehan Irshad Manji, ke sana kemari, hantam sana, hantam sini, tanpa ada rujukan yang bisa dilacak kebenarannya. Maka, saya heran, bagaimana kaum liberal sampai membangga-banggakan buku karya Irshad Manji ini? Seperti inikah sosok idola kaum liberal, sampai dijuluki ”lesbian mujathidah”? Apa karena Manji sangat liberal dan secara terbuka menyatakan diri sebagai lesbi, maka sosok ini dijadikan idola?

Buku Manji ini menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan kepada keotentikan al-Quran dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. Manji secara terbuka menggugat ini. Ia katakan:

”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran.” (hal. 96-97).



Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal, dalam buku biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bikinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.

Kisah ”ayat-ayat setan” itu kemudian diangkat juga oleh Salma Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan al-Quran.




Karen Armstrong mencatat: ‘’It repeats all the old Western myths about the Prophet and makes him out to be an impostor, with purely political ambitions, a lecher who used his revelations as a lisence to take as many women as he wanted, and indicates that his first companions were worthless, inhuman people.”

Armstrong tidaklah keliru! Dan Umat Islam yang sangat menghormati Nabi Muhammad saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Novel ini pun – dalam edisi bahasa Inggrisnya -- sudah dijual di Jakarta. Rushdie diantaranya menggambarkan istri-istri Nabi Muhammad saw sebagai penghuni rumah pelacuran bernama ”Hijab”. Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya ”Mahound” -- sebagai “the most pragmatic of prophets.”

Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang “ayat-ayat setan”. Memang, dalam bukunya ini pun Manji mengungkapkan , bahwa Salman Rushdie-lah yang mendorongnya untuk menulis buku ini. Manji menceritakan hal ini:

“Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini teringat lagi saat aku berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini. Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia memberikan semangat kepada seorang muslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa mengundang malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang hidup.” (hal. 322).



Dalam bukunya ini pun Irshad Manji menjadikan pendapat Christoph Luxenberg sebagai rujukan untuk menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah memahami al-Quran, yang seharusnya dipahami dalam bahasa Syriac. Tentang surga, dengan nada sinis ia menyatakan, bahwa ada human error yang masuk ke dalam al-Quran. Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para martir atas pengorbanan mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah, bagaimana bisa Al-Quran begitu tidak akurat?” tulisnya.

Pendapat Luxenberg bahwa bahasa al-Quran harus dipahami dalam bahasa Aramaik ditulisnya dalam buku “Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache”. Pendapat ini pun sangat lemah dan sudah banyak artikel ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin Arif telah mengupas masalah ini secara tajam dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual.

Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar terbuka tentang karya polemis itu selama satu semester penuh di departemen Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia ungkapkan sejumlah kelemahan-kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu kelemahan Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya, mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1.900!

Namun, meskipun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang-orang yang memang berniat jahat terhadap Islam, tetap tidak mau tahu dan mendengar semua argumentasi ilmiah tersebut. Irshad Manji, dalam bukunya ini, malah menyandarkan keraguannya terhadap al-Quran pada pendapat Luxenberg (seorang pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:

”Jika al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim bahwa al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah dipahami?” (hal. 96).



Tampaknya, penerbit buku Irshad Manji dan kaum liberal di Indonesia pun sudah tidak peduli dengan perasaan umat Islam dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Mereka begitu mudahnya menokohkan wanita lesbian seperti Irshad Manji, yang dengan entengnya melecehkan Nabi Muhammad saw dan al-Quran. Mereka mungkin sudah tahu bahwa umat Islam akan marah jika Nabi Muhammad saw dihina. Mereka akan senang melihat umat Islam bangkit rasa marahnya. Jika umat Islam marah, mereka akan tertawa sambil menuding, bahwa umat Islam belum dewasa; umat Islam emosional, dan sebagainya!!


Kasus Irshad Manji ini semakin memahamkan kita siapa sebenarnya kaum liberal dan apa maunya mereka. Kita kasihan sekali pada manusia-manusia seperti ini. Apa mereka tidak khawatir, jika anak-anak mereka nanti ditanya oleh gurunya, siapa wanita idola mereka? Maka anak-anak mereka tidak menjawab lagi, ”Idola kami adalah Khadijah, Aisyah, Kartini, Cut Nya Dien, dan sebagainya” tetapi akan menjawab: ”Idola kami Irsyad Manji, sang muslimah Lesbian teman baik Salman Rushdie sang penghujat Nabi.” Na’udzubillahi min dzalika. (Depok, 13 Sya’ban 1429 H/15 Agustus 2008).

Sumber: http://www.insistnet.com/